Senin, 14 Maret 2011

Belajar dari kisah Susno

Siapa yang tidak mengenal Susno Duadji? Perwira tinggi Mabes Polri dengan menyandang pangkat Komisaris Jendral Bintang Tiga ini, saya rasa saat ini nama Susno Duadji mulai lekat hampir disetiap segment masyarakat, terlepas itu masyarakat yang setuju dengan tingkah polahnya atau bahkan masyarakat yang kerap menggunjingnya. Namun, anda mungkin tidak tahu bgaimana sebenarnya kehidupan susno kecil, sebuah memoar tentang perjalanan susno menapaki karir hingga memilih militer sebagai jalan hidup diulas dalam buku karya IzHarry Agusjaya Moenzir ini.
IzHarry Agusjaya Moenzir pada awalnya adalah orang yang sangat membenci Susno, karena dia sendiri juga berasal dari keluarga militer, tingkah polah susno, ditambah  matanya yang suka plirak-plirik tak jarang dia cibir, namun pada suatu hari IzHarry merasa ada suatu keganjilan dalam batinnya dan ingin bertemu langsung dengan Susno, buku ini adalah hasil penuturan Susno Duadji tentang seluk beluk kehidupan masa kecil, serta tak lepas pula permasalahan bank century  yang menyeret dia menjadi sosok artis tivi.
            Pro kantra internal Punggawa-punggawa Polri tidak lepas dari sorotan buku ini, mulai dari upaya pengunduran Kabareskrim Susno Duadji oleh Kapolri yang tidak mempunyai cukup alasan, hingga dikeluarkannya kebijakan mutasi terhadap Susno sebagai Perwira tinggi non-job. Di Mabes, saat ini Susno mengaku tidak memiliki kamar kerja khusus “Semua ruang di Mabes itu ruangan saya. Jadi semua gedung, semua halaman samapai lapangan sepak bola, itu kantor saya” (hal.81).
            Pencatutan nama susno dalam sekandal Bank century dan persidangan Antasari azhar hingga seringnya Susno duduk di kursi pesakitan sidang, dengan demikian bukan hal mustahil ketika banyak stasiun televisi yang mengundang Susno dalam berbagai acara live, serta wartawan-wartawan yang selalu mengerumuni untuk mendapatkan sepatah kata dari susno, Intensitas susno bertemu dengan wartawan serta intensitas tampil di televisi ini lambat laun juga membuat gerah institusi kepolisian. Dia (Susno) dilarang bertemu wartawan, tidak boleh memberi keterangan pers. Wartawanpun tidak bias mewawancarai karena susno dijaga untuk tidak berpapasan dengan para pencari berita itu (hal.97), ekskalasi konflik diinternal Polri sebenarnya sudah dirasakan, namun terlepas dari itu semua susno sendiri adalah penganggum Kapolri Jendral Bambang H.D, menurut Susno, Bambang hendarso mewakili citra kepolisian yang bersih, taat azas, tidak nakal, bertanggung jawab dan mempunyai visi luas serta misi yang jelas. “saya ingin menempatkan Pak Bambang sebagai kapolri ke empat yang paling saya kagumi,” ujur Susno. (hal.23). 
Layaknya anak manusia pada umumnya Susno juga merasakan indahnya masa anak-anak, Susno memiliki delapan saudara, dia sendiri adalah anak kedua. Ayahnya bernama Duadji mereka semua terlahir di kota Pagaralam, sebuah kota yang masih bersih dari tangan-tangan kapitalis, hawanya yang rindang, sejuk, dingin membuat kota ini terkenal dengan kelezatan nuansa kopinya. Keluarga susno termasuk keluarga sederhana, karena faktor biaya, dalam keluarga mereka, pendidikan tertinggi hanya pada tingkat SMA. Kalau mau melanjutkan sekolah lagi “Cari sekolah gratis” Anjur pak Duadji (hal.2). selesai tamat SMA Susno mendaftar ke Universitas Sriwijaya. Karena kekagumannya pada penyuluh pertanian yang selalu bertugas membawa sepeda motor, Susno Akhirnya memilih jurusan Pertanian Universitas Sriwijaya. Diterima, namun gagal, tidak lain karena faktor keungan. Meski hatinya kalut Susno tetap bersih keras mencari sekolah gratis, pada akhirnya familynya memberikan kabar kalau ada pendaftaran polisi gratis. Padahal sebelumnya tidak terbesit sedikitpun keinginan untuk menjadi seorang polisi, semua karna faktor uang. Akhirnya diputuskanlah untuk ikut tes tersebut. Ada kejadian menggelikan ketika susno sedang menjalani tes, pada saat itu susno sedang diwawancarai oleh polisi: “ Apa alasanmu masuk Akabri kepolisian?”
“Karena sekolah ini tidak bayar, pak!”
“Apa pandanganmu tentang polisi?”
“Saya tidak suka sama polisi, Pak!”
“Kenapa tidak suka sama polisi?”
“Polisi suka minta duit, Pak!”
Tapi anehnya, susno malah lolos tes. Mungkin inilah buah yang diajarkan oleh kesederhanaan keluarga Susno “Kejujuran”.
Buku karangan Izharry Moenzir ini sangat bagus untuk dijadikan refrensi bagi para Politisi, birokrat, mahasiswa, bahkan saya rekomendasikan untuk semua elemen masyarakat, dibalik tulisan dalam buku ini IzHarry ingin memberikan sentuhan-sentuhan moral untuk kita berfikir dan bertindak, karena tidak jarang nuansa berfikir kita saat ini lebih sering ikut-ikut tanpa mengetahui subtansi permasalahan secara mendalam, dan menjadi lebih parah ketika kita ungkapkan dengan nuansa yang meledak-ledak. Di sini IzHarry berupaya mengajak para pembaca mencari tonggak-tonggak ketulusan, agar nurani para pembaca yang budiman bisa bersih dalm menilai, agar bermandi kebenaran, agar tidak ada su’udzon dan berburuk sangka terhadap siapapun di sekeliling kita, kita harus membebaskan diri untuk bisa berfikir merdeka, tidak terpengaruh oleh dominasi fikiran, karena belum tentu yang banyak itu adalah benar dan fikiran yang sedikit di anut itu adalah salah.
***
Judul Buku : Inside Jihadism: Bukan Testimoni Susno
Penulis : IzHarry Agusjaya Moenzir
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, 2010
Tebal : xii + 138 halaman

            Data Diri Penulis:
*Mohammad Firza Erwan; Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember.
Beberapa tulisannya pernah dimuat di Radar Jember dan Kompas.com
Aktif sebagai kontributor tulisan majalah kampus Buletin Ijo
Aktif di Lembaga Survei Indonesia (LSI) Jawa Timur.
Mengenyam pendidikan SD, SLTP, dan SLTA di Pagaralam
 
 

Menghadirkan realitas ke ruang kontemplatif


Judul : Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tebal : 258 Halaman
Terbit : Juni, 2007

Siapa tidak mengenal Emha Ainun Nadjib. Lelaki ini terbilang produktif dalam menulis. Tulisannya ada yang berupa puisi, cerita pendek, kolom, hingga esai. Lewat tulisan-tulisan itu berbagai persoalan dibedahnya, mulai dari soal politik, sosial kemasyarakatan, sastra, kebudayaan, kebangsaan, sampai agama. Itu pula yang dilakukannya lewat buku berjudul Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki ini.

Di dalam kumpulan esai ini Emha mengungkapkan berbagai persoalan yang ada di dalam masyarakat. Ia yakin begitu banyak masalah dalam masyarakat yang nyata-nyata menuntut penyelesaian. Dalam pandangannya, jika persoalan itu tidak mendapatkan perhatian dari berbagai pihak, keterpurukan dan krisis bangsa Indonesia tidak akan pernah berakhir.
Persoalan-persoalan itu bagi Emha bukan sekadar sebuah gejala, tetapi telah menjadi potret buram yang terjadi dalam waktu lama. Buntutnya, diperlukan perubahan yang radikal agar bangsa Indonesia bisa lolos dari krisis. Di sinilah titik kritik Emha yang tertuang dalam tulisannya.


Dalam kumpulan esai ini, Emha tampak mencoba menyodorkan realitas ke depan pembacanya. Ia mencoba menghadirkan kenyataan tersebut langsung ke pusat kesadaran pembacanya. Tidak mengherankan jika pembaca sesekali akan berhenti membaca untuk memberikan ruang kontemplasi, dan merenungkan apa yang sedang dibacanya. Hal ini dilakukan misalnya dengan melontarkan pertanyaan-pertanyan retorik. Di sinilah salah satu kelebihan esai-esai yang ditulis oleh Emha.


Di samping itu, Emha kerap menggunakan idiom-idom yang diambil dari Al Quran sehingga nafas Islami dari sejumah esainya dapat dirasakan. Menariknya, meskipun begitu, esai-esai tersebut tetap kontekstual dengan keindonesiaan dan tidak menjadi tulisan-tulisan agama, walaupun nilai-nilai religius tetap mengalir di dalamnya. Inilah yang membuat tulisan-tulisan Emha tetap dapat “dinikmati” oleh berbagai kalangan, bahkan lintas pemeluk agama.

Ke akar masalah
Esai-esai Emha tidak bergegas memberikan sebuah solusi untuk problem-problem yang tengah dibahas. Tetapi justru ia mengajak pembaca untuk secara perlahan menyelami akar masalah dari persoalan yang ada. Di sini pembaca seakan diajak untuk melihat setiap permasalah secara komprehensif, mengakar, terbuka terhadap berbagai kemungkinan, bersikap tidak asal tuduh, dan selalu mempertimbangkan dimensi-dimensi yang mengitarinya (pluridimensional).

Hal di atas tampak misalnya ketika Emha berbicara soal terorisme yang memunculkan stereotip di kalangan atau kelompok masyarakat tertentu. Dalam tulisan ini diceritakan bagaimana Emha harus menjawab pertanyaan yang diajukan seputar terorisme dan pesantren. Menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan pesantren, dengan nada menyejukkan Emha mengungkapkan bahwa orang-orang dari pesantren adalah kaum yang termarjinalkan. Lulusan pesantren sebagian besar menjadi kaum yang terlempar dari arus jaman. Lalu, yang tidak diperhatikan oleh banyak kalangan, keterpinggiran tersebut disertai dendam di punggung mereka dan sewaktu-waktu bisa berubah menjadi ledakan api.


Harus diakui memang, tulisan-tulisan lelaki yang akrab dipanggil Cak Nun ini bukanlah tulisan yang dapat seketika dipahami. Namun diperlukan kearifan, kecermatan serta ketelitian dalam membacanya. Maklum saja, tulisan-tulisannya bukanlah berita sensasional tabloid hiburan yang dapat dinikmati secara instan.

Menyerahkan kepada pembaca
Emha sendiri di dalam esai-esainya tidak mencoba menggurui. Ia juga tidak tiba-tiba menjadi orang yang “maha tahu” dan mempunyai kapasitas untuk memberikan nilai pada sebuah keadaan, melainkan mencoba membahasakan realitas ke hadapan pembaca. Mengenai penilaian, hal itu lagi-lagi diserahkan kepada pembaca.


Di dalam esai-esainya, Emha sering mengajak pembaca melihat realitas dengan cara tidak langsung. Ia seringkali masuk ke dalam persoalan lewat peristiwa tertentu atau bahkan cerita tertentu. Dari situ spektrumnya meluas dan menyusup ke hal-hal yang mendasar dan substansial.


Ketika Emha memperbincangkan soal goyang Inul Daratista misalnya, ia tidak hanya berhenti pada kontroversi goyang yang sempat menghebohkan itu, tetapi juga ia ingin menunjukkan ketidakkonsistenan masyarakat dalam menghadapi sebuah gejala. Hal ini, menurut Emha, adalah disebabkan boleh latar belakang budaya dan infrastruktur alam pikiran masyrakat itu sendiri. Misalnya saja, melarang habis-habisan orang untuk korupsi, tetapi jika dirinya kecipratan hasilnya, korupsi seakan-akan menjadi legal (Hal. 16).

Sebagai murid
Hal yang sama juga tampak saat Emha berbicara soal bencana Tsunami yang terjadi di tahun 2004 di Aceh. Di sini ia tidak melulu berbicara mengenai gempa secara teknis, tetapi ia justru menelaah peristiwa tersebut dari sisi spritual yang reflektif dan kontemplatif.


Hal lain yang menarik dari kumpulan tulisan ini, Emha mengingatkan bahwa tulisannya selalu bertolak pada tanggung jawab sebagai anggota masyarakat dan bangsa, bukan pada “karir” kepenulisannya. Tidak mengherankan jika kemudian Emha acap kali memosisikan diri sebagai bagian dalam kehidupan masyarakat yang tengah dikritisinya. Malah ia menempatkan diri sebagai “murid” dari masyarakat atau umat. Keegaliteran inilah yang membuat Emha selalu dapat diterima di berbagai lapisan dan golongan masyarakat.


Dalam buku yang tidak diberi pengantar, baik dari editor, penerbit maupun penulisnya sendiri ini, esai-esai Emha dikelompokkan menjadi enam bagian besar yaitu Podium Husni yang banyak mengupas persoalan kebudayaan, Sekul dan Uler yang menyoal ideologi negara dan kepemimpinan, Santri Teror yang membahas masalah santri dan alam pikiran para santri, Generasi Kempong yang mengajak pembaca untuk melihat berbagai kekacauan sikap budaya dan kemunafikan, “Wong Cilik” dan Dendam Rindu Jakarta yang berbicara mengenai kaum marjinal, dan Gunung Jangan Pula Meletus yang mencoba memaknai bencana yang melanda Indonesia.


Sayangnya, tidak semua esai dalam buku ini menyebutkan sumber tulisannya. Akibatnya, pembaca tidak pernah tahu konteks sesungguhnya dari tulisan-tulisan tersebut. Akan lebih membantu sebenarnya jika pembaca tahu sumber tulisan tersebut, misalnya, apakah esai tersebut pernah dimuat di sebuah harian, apakah esai tersebut merupakan makalah dalam sebuah seminar, atau memang tulisan-tulisan yang belum sempat diterbitkan. Sumber karangan, waktu ketika esai itu dibuat, dan konteks persoalan ketika esai itu dibuat, tentunya akan membantu pembaca memahami gagasan-gagsan Emha dan maksud dari tulisan-tulisannya.***