Siapa yang tidak mengenal Susno Duadji? Perwira tinggi Mabes Polri dengan menyandang pangkat Komisaris Jendral Bintang Tiga ini, saya rasa saat ini nama Susno Duadji mulai lekat hampir disetiap segment masyarakat, terlepas itu masyarakat yang setuju dengan tingkah polahnya atau bahkan masyarakat yang kerap menggunjingnya. Namun, anda mungkin tidak tahu bgaimana sebenarnya kehidupan susno kecil, sebuah memoar tentang perjalanan susno menapaki karir hingga memilih militer sebagai jalan hidup diulas dalam buku karya IzHarry Agusjaya Moenzir ini.
IzHarry Agusjaya Moenzir pada awalnya adalah orang yang sangat membenci Susno, karena dia sendiri juga berasal dari keluarga militer, tingkah polah susno, ditambah matanya yang suka plirak-plirik tak jarang dia cibir, namun pada suatu hari IzHarry merasa ada suatu keganjilan dalam batinnya dan ingin bertemu langsung dengan Susno, buku ini adalah hasil penuturan Susno Duadji tentang seluk beluk kehidupan masa kecil, serta tak lepas pula permasalahan bank century yang menyeret dia menjadi sosok artis tivi.
Pro kantra internal Punggawa-punggawa Polri tidak lepas dari sorotan buku ini, mulai dari upaya pengunduran Kabareskrim Susno Duadji oleh Kapolri yang tidak mempunyai cukup alasan, hingga dikeluarkannya kebijakan mutasi terhadap Susno sebagai Perwira tinggi non-job. Di Mabes, saat ini Susno mengaku tidak memiliki kamar kerja khusus “Semua ruang di Mabes itu ruangan saya. Jadi semua gedung, semua halaman samapai lapangan sepak bola, itu kantor saya” (hal.81).
Pencatutan nama susno dalam sekandal Bank century dan persidangan Antasari azhar hingga seringnya Susno duduk di kursi pesakitan sidang, dengan demikian bukan hal mustahil ketika banyak stasiun televisi yang mengundang Susno dalam berbagai acara live, serta wartawan-wartawan yang selalu mengerumuni untuk mendapatkan sepatah kata dari susno, Intensitas susno bertemu dengan wartawan serta intensitas tampil di televisi ini lambat laun juga membuat gerah institusi kepolisian. Dia (Susno) dilarang bertemu wartawan, tidak boleh memberi keterangan pers. Wartawanpun tidak bias mewawancarai karena susno dijaga untuk tidak berpapasan dengan para pencari berita itu (hal.97), ekskalasi konflik diinternal Polri sebenarnya sudah dirasakan, namun terlepas dari itu semua susno sendiri adalah penganggum Kapolri Jendral Bambang H.D, menurut Susno, Bambang hendarso mewakili citra kepolisian yang bersih, taat azas, tidak nakal, bertanggung jawab dan mempunyai visi luas serta misi yang jelas. “saya ingin menempatkan Pak Bambang sebagai kapolri ke empat yang paling saya kagumi,” ujur Susno. (hal.23).
Layaknya anak manusia pada umumnya Susno juga merasakan indahnya masa anak-anak, Susno memiliki delapan saudara, dia sendiri adalah anak kedua. Ayahnya bernama Duadji mereka semua terlahir di kota Pagaralam, sebuah kota yang masih bersih dari tangan-tangan kapitalis, hawanya yang rindang, sejuk, dingin membuat kota ini terkenal dengan kelezatan nuansa kopinya. Keluarga susno termasuk keluarga sederhana, karena faktor biaya, dalam keluarga mereka, pendidikan tertinggi hanya pada tingkat SMA. Kalau mau melanjutkan sekolah lagi “Cari sekolah gratis” Anjur pak Duadji (hal.2). selesai tamat SMA Susno mendaftar ke Universitas Sriwijaya. Karena kekagumannya pada penyuluh pertanian yang selalu bertugas membawa sepeda motor, Susno Akhirnya memilih jurusan Pertanian Universitas Sriwijaya. Diterima, namun gagal, tidak lain karena faktor keungan. Meski hatinya kalut Susno tetap bersih keras mencari sekolah gratis, pada akhirnya familynya memberikan kabar kalau ada pendaftaran polisi gratis. Padahal sebelumnya tidak terbesit sedikitpun keinginan untuk menjadi seorang polisi, semua karna faktor uang. Akhirnya diputuskanlah untuk ikut tes tersebut. Ada kejadian menggelikan ketika susno sedang menjalani tes, pada saat itu susno sedang diwawancarai oleh polisi: “ Apa alasanmu masuk Akabri kepolisian?”
“Karena sekolah ini tidak bayar, pak!”
“Apa pandanganmu tentang polisi?”
“Saya tidak suka sama polisi, Pak!”
“Kenapa tidak suka sama polisi?”
“Polisi suka minta duit, Pak!”
Tapi anehnya, susno malah lolos tes. Mungkin inilah buah yang diajarkan oleh kesederhanaan keluarga Susno “Kejujuran”.
Buku karangan Izharry Moenzir ini sangat bagus untuk dijadikan refrensi bagi para Politisi, birokrat, mahasiswa, bahkan saya rekomendasikan untuk semua elemen masyarakat, dibalik tulisan dalam buku ini IzHarry ingin memberikan sentuhan-sentuhan moral untuk kita berfikir dan bertindak, karena tidak jarang nuansa berfikir kita saat ini lebih sering ikut-ikut tanpa mengetahui subtansi permasalahan secara mendalam, dan menjadi lebih parah ketika kita ungkapkan dengan nuansa yang meledak-ledak. Di sini IzHarry berupaya mengajak para pembaca mencari tonggak-tonggak ketulusan, agar nurani para pembaca yang budiman bisa bersih dalm menilai, agar bermandi kebenaran, agar tidak ada su’udzon dan berburuk sangka terhadap siapapun di sekeliling kita, kita harus membebaskan diri untuk bisa berfikir merdeka, tidak terpengaruh oleh dominasi fikiran, karena belum tentu yang banyak itu adalah benar dan fikiran yang sedikit di anut itu adalah salah.
***
Judul Buku : Inside Jihadism: Bukan Testimoni Susno
Penulis : IzHarry Agusjaya Moenzir
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, 2010
Tebal : xii + 138 halaman
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, 2010
Tebal : xii + 138 halaman
Data Diri Penulis:
*Mohammad Firza Erwan; Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember.
Beberapa tulisannya pernah dimuat di Radar Jember dan Kompas.com
Aktif sebagai kontributor tulisan majalah kampus Buletin Ijo
Aktif di Lembaga Survei Indonesia (LSI) Jawa Timur.
Mengenyam pendidikan SD, SLTP, dan SLTA di Pagaralam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar